RSS

Halamannn

Nice Strory For Vie 2: Berkah Itu Berupa Cinta Yang Tulus



Setahun lalu aku menjadi seorang yang sangat menderita jika tak bisa dibilang sial, karena penyakit mata yang kuderita. Dokter yang mendiagnosaku mungkin menjadi salah seorang yang paling kubenci di dunia ini, karena salah mendiagnosa penyakitku aku akhirnya menjadi buta dan terlempar ke dunia yang gelap gulita, penah amarah, frustasi dan rasa penyesalan yang tak ada habis-habisnya.
Sebagai perempuan yang awalnya normal, aku merasa kehilangan segalanya, merasa tak berdaya dan merasa menjadi beban buat semua orang yang ada di sekelilingku. Namun lama kelamaan aku menjadi lebih sadar dan bisa menerima semua yang sudah terjadi, bagaimanapun aku bertindak, betapapun aku sering menangis atau mungkin mengomel dan menyalahkan Yang Maha Kuasa atas penderitaan yang ditimpakanNya padaku, penglihatanku tak akan pernah kembali ke keadaan semula.
Aku sebenarnya orang yang sangat optimis dengan segala sesuatu, namun kini keseharian aku isi dengan perjuangan yang demikian berat. Depresi membuatku kehilangan arah dan menguras tenagaku, dan aku hampir frustasi dibuatnya. Saat ini aku menjadi sangat bergantung pada orang lain, terutama suamiku. Padahal semua itu membuatku merasa sangat kerdil dan menyusahkan banyak orang. Aku tak lagi mampu masuk kamar sendiri, semua serba dituntun, dibimbing, sangat diperhatikan, seolah-olah aku ini anak kecil.
Untunglah ditengah-tengah kesulitan itu, aku memiliki seorang suami yang sabar dan selalu melayani semua keperluanku. Namun lama kelamaan hal itu membuatku merasa tak nyaman. Aku ingin sekali kembali dengan kegiatanku, pergi ke kantor, melayani klien-klienku. Kebetulan aku adalah seorang konsultan psikologis, jadi masih ada kemungkinan aku kembali bekerja dan memberikan pelayanan kepada mereka yang membutuhkan
Ketika aku baru kehilangan penglihatan, orang pertama yang membantuku menemukan kembali kepercayaan, kekuatan yang aku butuhkan. Entah bagaimana caranya yang jelas ia begitu gigih dan seolah tahu apa yang harus ia perbuat. Hingga akhirnya aku menyatakan siap untuk bekerja lagi, tetapi tetap saja masalah menggayuti rencanaku tersebut. Dulu aku biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi sendirian. Dan kahirnya suamiku memutuskan untyik mengatarku setiap hendak dan pulang dari kantor.
Mula - mula, kesepakatan itu membuatku merasa nyaman dan suamiku puas karena bisa melindungi, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, akhirnya suamiku segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru. Ia mulai menawarkan aku cara lain agar aku bisa ke kantor. Dengan meggunakan bis, aku ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. “Mas aku ini buta,” ujarku sengit.
Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersamaku, selama masih diperlukan, sampai aku hafal dan bisa pergi sendiri. Dan itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh suamiku mengawalku ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari aku bagimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana aku berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Dia menolongku berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan satu kursi kosong untukku. Dia membuatku bisa kembali tertawa, Setiap pagi kami berangkat bersama-sama, setelah itu ia akan naik taksi ke kantornya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melakukan perjalanan itu seorang diri.
Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, aku memeluk suamiku yang pernah menyertaiku dalams atu bus dan memberikan yang terbaik. Aku tak dapat membendung air mataku, air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta suamiku. Dia mengucapkan selamat jalan. Untuk pertama kalinya kami pergi kearah yang berlawanan. Setiap hari aku jalani dengan sempurna.
Belum pernah aku merasa sepuas ini. Aku mampu berangkat kerja tanpa dikawal. Pada hari Jum’at pagi, seperti biasa aku naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata, ”wah, aku iri padamu”. aku tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadaku atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang perempuan buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untk menjalani hidup?
Karena penasaran aku bertanya kepada sang supir, “Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?” Sopir itu menjawab, “Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu”. aku semakin tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi aku bertanya.”Apa maksudmu?” Kau tahu minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, Kau perempuan yang beruntung”. kata sopir itu.
Sontak air mata bahagia membasahi pipiku. Karena meskipun secara fisik aku tidak dapat melihat suamiku, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Aku beruntung, sangat beruntung, karena suamiku memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri, hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan. (rn)
www.perempuan.com Wednesday, 10 October 2007

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: