RSS

Halamannn

Jejak Langkah Yang Kau Tinggal…


Jejak Langkah Yang Kau Tinggal…

Kata orang jatuh cinta itu indah. Apalagi cinta itu terbalaskan oleh orang yang kita cintai. Sekalipun aku masih belum mengerti betul apa itu mencintai dan apa itu dicintai, tapi mungkin aku bisa sedikit belajar dari apa yang pernah kualami dan juga belajar dari orang-orang yang ada disekitarku. Aku tahu cinta pada sesama manusia itu adalah fitrahNYA, karena Allah pun berfirman dalam suratnya “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNYA ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya tentram kepadanya, dan dijadikanNYA di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS.Ar-Rum:21)”. Oh iya, aku juga pernah membaca bahwa Allah juga memerintahkan Nabi Sulaiman untuk menyelamatkan tiap-tiap binatang berpasang-pasangan saat ditimpakan suatu azab bagi kaum yang mendustakan Allah. Tapi, kisah lengkapnya aku cari belum ketemu. Nah, itu berarti kita harus percaya bahwa Allah telah menciptakan pasangan untuk kita dan Insya Allah dia adalah yang namanya ‘jodoh’ kita. Permasalahan siapa, kapan, dimana, dan bagaimana Allah mempertemukan kita dengan pasangan kita, semua itu ada waktunya dan terjadi tepat pada waktunya. Karena ketika Allah telah berkehendak “Jadi. Maka Jadilah”.
Saat aku menulis ini, baru saja aku dan saudaraku, anak dari Budheku saling bercerita. Sebut saja namanya Aga. Aku dan Aga usianya hampir sama, cuma aku beberapa bulan lebih tua dari dia. Entah kenapa akhir-akhir ini Aga sering bercerita denganku. Aku sangat senang, karena saudaraku yang satu ini orangnya paling tertutup. Aku senang ketika dia mau terbuka padaku, setelah hampir belasan tahun kita tidak pernah saling bercerita tentang hal-hal yang sifatnya pribadi. Aku tidak menduga sebelumnya dan hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya. Tentang kisah kasihnya. Kisah kasih di usia kita yang ke-22 tahun ini.
Malam itu, 21.38 hpku tiba-tiba berdering. Dan satu sms aku terima.
“Vie, kmu sibuk ga? Ak mau curhat”
Hah………aku merasa begitu heran sekaligus penasaran.
“Gak, gi nganggur-nganggur nih. Curhat apa? Dh curhat aja, he…”
“Vie, tapi rahasia ya. Via, Dhiya suka sama aku, ini serius. Tapi jaga rahsia. Dia bilang padaku kalau dia suka aku. Tapi sudah terlanjur dengan yang pernah aku kasih tahu kamu. Gmana? Sebenarnya aku kasihan ma Dhiya. Tapi gmana?”
“Walah2?? Pa iya? Serius? Katanya dia sudah punya cowok? Bilang’e ke u lewat sms ato telepon? Trus kamu jawab apa?”
“Cowoknya dah diputus. Soalnya sama-sama anak terakhir. Trus berpaling ke aku. Ini serius vie. Tapi temen-temen kita jng mpe tahu. Kasian. Gimna ini? Dia bilangnya lewat telp ma sms.”
“Iya, tenang aja. Aku ya gak mungkin ngomong ma temen-temen. Bilangnya kapan? Terakhir sms aku minggu-minggu kemarin, bilang ke aku ntar pas reuni mau ngenalin cowoknya ke aku. Lha u ngomong apa ke dia?”
“Katanya dia suka sama aku sudah lama. Tapi aku ga ngerasa. Lha dia gak ngomong. Aku kan gak tahu kan? Knapa dia baru bicara, setelah aku dah punya Anni. Anni itu sudah cinta mati ma aku.Bilangnya kemarin, ya itu, reuni mau menjadikan aku pacarnya vie. Aku gak enak, takut vie, Dhiya itu anaknya orang kaya. Aku jawab yo ku suruh dia mikir dulu keputusannya ingin menjadikan aku cowoknya”
“Ya, aku juga tahu kok Ga. Kalau dia suka kamu sudah lama. Dulu aku kan juga suka menyindir kamu. Tapi, kelihatannya kamu ga suka atau respon ke dia. Aku ya ga berani terlalu member harapan ke Dhiya. Trus aku dengar dia sudah punya cowok dan kamu juga sudah punya. Lha, kamu jawab apa ke dia? Trus sejujurnya kamu sendiri gmana?”
“Dia dah gak punya cowok. Lha aku ga ngerti. Sumpah Vie, gak ngerasa. Dia gak jujur. Kalau jujur-jujuran, aku cinta Dhiya karena kasihan, tapi aku cinta ma Anni karena cinta. “Tapi, kalau saja Dhiya jujur bilang cinta dari dulu, ya tak terima lah. Aku gak mungkin nyakitin cewek. Tapi datangnya terlambat. Knapa baru bicara? Lagian aku mikir panjang, aku coba, dia siapa? “ “Ah…bingung aku. Akibat nyata ini vie, dari ketidakjujuran. Coba saja dia jujur dari dulu. Pasti tak terima, karena selama ini, cewek yang nembak aku, bukan aku yang nembak cewek”
“Ga, gak usah ngomong kayak gitu. Tiap orang itu punya rejeki sendiri-sendiri. Gak usah membanding-bandingkan. Aku cuma bisa nyaranin agar kamu lebih bijak aja. Jangan menerima seseorang karena kasihan karena itu akan lebih menyakitkan daripada kamu menolaknya. Karena cinta adalah sebuah kejuuran dan ketulusan untuk menerima apa adanya pasangan kita. Maka, ikutilah kata hatimu yang terdalam yang kamu yakin itu yang terbaik”
“Ya, cinta sama Dhiya itu ada plus kasihan. Yang aku bikin kasihan, dia dari dulu ternyata beneran saying sama aku. Aku gak ngerti. Aku sudah dekat dengan Anni, ma keluarganya juga”
“Oh begitu ya Ga. Wah2….kisah kasihmu kok rumit ya. Tapi, jangan dibuat rumit loh ya. Mantapkan hatimu saja. Kalau kamu yakin dengan pilihan hatimu yang sekarang ya itu yang saat ini terbaik untukmu. Hidup memang penuh pilihan!! Kamu mantap dengan Anni?”
“Ya, mantap sih Vie, Anni cinta mati sama aku. Aku aja dah ditanggung Vie, keluarganya bisa menerima aku apa adanya. Anni,juga anak orang kaya, dia sudah punya rumah sendiri Vie. Gimana Vie?” Anni itu, kalau aku maen, aku gak boleh bawa montor. Pakai montor dia. Jajan, dia yang traktir. Pengorbanannya sudah banyak. Satu tahun Vie. Lama kan? Aduh2 gimana ini? Kasihan Dhiya Vie”
“Maksudnya ditanggung gimana? Anni anak ke berapa dari berapa orang? Sekolah, kerja, kuliah? Kenapa Anni sampai bisa cinta mati sama kamu? Adakah alasannya?”
“Anni anak terakhir. Dah dibuatkan rumah, sekarang SMA kelas 3. Ku suruh kuliah di Semarang aja, soalnya bapaknya stroke, biar ada yang jaga. Kakaknya sudah menikah. Ya, cinta sungguh-sungguh ma aku.”
“Ga, Tanya, apakah kamu menemukan kenyamanan jalan sama dia?”
“Udah Vie. Dia enjoy wae, gak pernah ada masalah. Anni itu penurut kalau ma aku Vie. Dulu kita jadian pas Anni masih kelas dua. Terus sampai sekarang aku di Jakarta.”
“Oh ya dah kalau begitu. Gak usah dipermaslahkan, tinggal kamu bilang sejujur-juurnya ma Dhiya apa yang menjadi keyakinan hatimu. Mungkin bagi Dhiya jawabanmu akan terasa menyakitkan, tapi aku yakin Dhiya akan menghargai keputusanmu karena Dhiya tlah berhasil melakukan hal yang benar, sekalipun itu terlambat.”
“Tadi Dhiya sms lagi Vie. Dhiya akan stress banget kalau aku tolak. Tadi aku bilang lagi sama Dhiya, aku suruh mikir lagi keputusannya. Mang cewek itu kayak apa sih? Aku bingung. Aduh……” Ya dah Vie, dah malam. Bobo’, besok kuliah. Waduh, pasti nanti aku mimpi buruk Vie. Aduh..aduh…Ya Allah. Gud night”
“Walah kok si Dhiya sampai segitunya sih? Hehehe… Perempuan itu memang unik Ga, dia punya sesuatu hal yang kadang tidak bisa dimengerti orang lain. Perempuan adalah tulang suruk laki-laki, biarkan dia tetap bengkok dan jangan pernah kau coba untuk meluruskannya karena itu akan membuatnya patah. Hanya laki-laki yang mampu mengerti mengerti perempuan. Maka, sayangilah dia seperti apa adanya.” Aku nih manusia kelelawar Ga, tidurnya terserah,he.. Aku dah gak kuliah, tinggal skripsi saja. Kamu dah mo tidur ya? Ya dah met bobo’ ja, ga usah mikir yang aneh-aneh. Konsentrasi ja ma kerjaanmu di Jakarta. Okey.”
“Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik pada kekayaannya karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah pada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Ada yang berkata:’cinta itu anugerah, jangan dicari atau mencari, karena ia akan hadir sendiri walau sejenak atau dalam situasi yang salah. Cinta itu adalah fitrah, maka posisikan cinta itu sewajarnya saja untuk meraih ridhoNYA, niscaya kau akan bahagia. Ga, jangan berlebihan.”
“Waduh Vie, bahasamu tingkat tnggi. Aku lulusan STM, gak begitu ngerti Vie. Aku kenal Anni, dia ngakunya anak orang gak begitu kaya. Ternyata, aku tahu anaknya orang kaya. Aku takut Vie” Aku kalau suka sama cewek padahal gak berani mengungkapkan. Sumpah. Dia yang ‘nembak’ aku selama ini. Kamu kan tahu, aku anaknya itu pemalu. Tetapi mereka memaksa, ya udah aku terima. Begitu ceritanya “Hahaha….bahasa perempuan Ga. Aku ja juga gak ngerti. Direnungi wae. Siapa tahu ada manfaatnya.” Iya aku ngerti kalau kamu itu pemalu. Gak usah takut. Buat apa takut. Kaya atau miskin itu tinggal rejekinya. Kamu percaya jdoh gak? Gusti Allah itu lebih ngerti apa yang paling baik buat kamu. Intinya ‘enjoy aja’, hehehe….”
“Eh, gimana nih alau seandainya Dhiya gak ku terima. Hubungan persahabatan aku ama dia ama kamu hancur. Itu resikonya. Kalau ku terima, sama saja aku berkhianat sama Anni. Iya kan?”
“Gak mungkin mas. Tenang aja, aku yakin persahabatan kita akan baik-baik saja. Gak usah khawatir. Semua itu butuh waktu. Kamu menolaknya yang halus dengan alas an yang bisa Dhiya mengerti dan hargai”
“Aku ini masih ditunggu jawabanku sampai besok. Gimana ini. Persahabatan akan terancam. Gak tahu, gak tahu ah. Nasibnya jadi ‘cah ganteng’ mungkin. Ibu…ibu…”
“Halah, narsisnya keluar. Ya dah dijawab apa adanya aja. Ibu pasti merestui anak laki-lakinya yang jelek-jelek sendiri. Amin. Hehe…”

Beberapa hari kemudian……20.30
“Vie gimana ini? Dhiya suka sama aku kok mpe seperti ini. Aku takut Vie. Gimana ini? Aku harus member jawaban apa? Dhiya menangis Vie. Ya Allah bagaimana ini?”
“Kamu bilang apa, kok mpe Dhiya menangis? Atau kamu belum memberikan jawaban sama sekali”
“Aku belum berani memberi jawaban. Yah gimana? Aku gak ngerti jodohku siapa kelak. Kalau tak tolak, aku takut ‘kualat’. Aku bingung. Katanya dia suka sama aku dari SD sampai sekarang. Kasihan banget, tahu gak.”
Sekedar mengingatkan, Dhiya adalah teman kita sejak duduk di Taman Kanak-Kanak, sampai sekarang kita masih menjalin persahabatan, sekalipun waktu lebih sering membuat kita jarang sekali bertemu, tetapi pasti selalu ada kesempatan untuk kami sekedar bertegur sapa, atau saling bercerita kalau kebetulan bertemu pas Hari Raya tiba. Memang, kami satu daerah tempat tinggal, SD sampai SMP kami selalu sama. Tapi, ketika lulus SMP kami belajar di tempat yang berbeda-beda. Dhiya di SMP daerah kecamatan kami. Aga di STM. Dan aku ke SMA di Kota. Kalau bertemu mungkin bisa dihitung dengan jari dan saat itu belum ada HP, jadi praksis kami gak pernah saling berkomunikasi. Tapi, Allah itu Maha Indah dengan Segala Keindahannya, Dia selalu menjaga persahabatan kami. Ada sesuatu di persahabatan kami. Yang pasti sesuatu yang indah. Sekarang, Dhiya kuliah di perguruan tinggi negeri di Kota Atlas, sementara Aga, bekerja sebagai arsitek di perusahaan besar di Jakarta dan aku sendiri kuliah di perguruan tinggi yang kata orang bersejarah di Kota Budaya. Dan, akhir-kahir ini kami bisa berkomunikasi kembali. Dan hal yang tidak ku percaya adalah bahwa Dhiya masih menyukai Aga sampai sekarang, dan entah kenapa aku bangga terhadapnya tapi sekaligus menyayangkan sikapnya. Bangga karena Dhiya berani jujur memperjuangkan perasaan yang sudah Dhiya pendam selama belasan tahun. Menurutku, itu sangat sulit, sekalipun Dhiya sering sekali punya banyak ‘pacar’. Apakah itu yang namanya cinta sejati, aku tidak tahu?. Namun, yang aku tidak mengerti kenapa Dhiya menjadi memaksakan kehendaknya seperti itu. Entah, apa yang ingin dibuktikannya.
“Hmm….jodoh memang gak ada yang tahu Ga. Ngomong-ngomong soal ‘kualat’. Ya percaya gak percaya, smua itu tinggal RidhoNYA saja. Kata seseorang ‘wong urip kuwi enek sing nguripi’. Kalau menurut kata hatimu yang paling dalam, gimana?”
“Cintaku tipis ma Dhiya. Jujur, soalnya cintaku pertama, habis ma temenmu SMA itu. Habis ditemanmu, sebenarnya aku malas Vie dengan yang namanya pacaran. Aku cari cewek, ku buat jaga-jaga aja besok kalau nikah, ada yang aku tuju. Sebenarnya hokum Islam boleh tidak menikah. Mungkin aku lebih suka hidup sendiri. Saat ini cewekku ya Anni itu”
“Oh, begitu. Berarti kamu dulu pernah ‘pacaran’ ma temenku? Mungkin cinta pertama memang susah untuk dilupakan kok Ga. Sebenarnya aku juga seperti kamu, bedanya Cuma kamu berani belajar mencintai orang lain, kalau aku belum berani suka sama orang lain lagi. Aku juga takut Ga, kalau aku nolak-nolak orang, tapi aku gak mau membohongi kata hatiku sendiri ke mereka. Ya, Alhamdulillah, sampai sekarang orang-orang yang belum bisa ku terima, maih bersahabat baik denganku. Bersikap dewasa itu mungkin lebih bijak”
“Menikah itu pilihan Ga. Tapi, sekalipun hokum Islam tidak melarang orang yang memilih tidak menikah, alangkah mulianya jika kita bisa memilih untuk menikah, karena menikah itu adalah ibadah. Sunatullah. Enak kan kalau kita besuk dapat jodoh yang bisa kita bawa dari dunia ke akhirat. Apalagi bisa berkumpul di surga. Hmm….indahnya”
“Bingung aku. Selain Dhiya itu akeh yang suka, dan juga menunggunya. Malah ada yang suka nelpon Ibu. Takut aku. Aku sebenarnya pengen hidup sendiri. Ahh…. Hpnya Dhiya sepertinya gak aktif. Dah ku sms tapi gak ada yang masuk. Mau ku telepon, pulsaku tinggal dikit.”
“Ya Allah, sampai telpon ibu. Dhiya yang telpon?? Dah kamu tenang aja. Semua pasti ada jalan keluarnya. Tinggal nunggu waktunya.
“Ga, aku kok pengen nangis ya. Rasanya kangen banget ma hidupku pas kecil. Huhhfff… Ya dahlah, dijalani aja. ‘Gusti Allah Mboten Sare’. ”
“Dhiya nangis Vie. Bingung aku. Ahh…gak tahu ak. Pengen menjerit aku……”
“Ga yang kita alami kok sama ya. Hmmm…apa yang akan terjadi pada kita ya?”
“Gawat memang Vie. Mungkin ada sesuatu pada kita Vie ‘pengasihan dari mbah’, semua ini dialami oleh saudara-saudara kita. Awalnya disukai banyak orang, sekalipun nanti pada akhirnya menikah juga. Gawat Vie, akeh godaannya.”
“Walah. Hmm…seandainya iya, ya Alhamdulillah lah Ga banyak disukai orang, daripada dibenci orang, kan lebih gawat lagi. Cuma, yang aku belum mengerti sampai sekarang, kenapa aku gak gampang suka dalam arti saying ma orang yang saying ma aku ya. Gimana ya?”
“Sama aja. Jujur, dari dasar hatiku. Aku kalau pacaran ya, aslinya gak suka banget, paling ya biasa saja. Anehnya malah pengen sendiri saja. Kalau kebanyakan yang suka malah gawat. Di kantorku juga ada yang suka, bahkan sampai berperilaku tidak wajar.”
“Hahaha….ah gak tahu Ga. Aku yang namanya orang sebut ‘pacaran’ (sebenarnya aku sendiri gak begitu suka dengan sebutan pacaran, rasanya aneh) itu cuma sekali pas SMA, itu aja gara-gara aku minta ma Allah ‘pengen merasakan aja pacaran pas SMA itu seperti apa’. Alhamdulillah di’ijabah, tapi ‘pacaran’ku malah kayak temenan biasa, gak seperti orang-orang yang lain. Lulus SMA, dah hilang sendiri-sendiri. Tapi, kalau aku suka sama orang baru beberapa tahun yang lalu, dia datang di saat masku menikah, entah dimana dia saat ini aku gak tahu. Halah, hehe….”
“Eh Ga, hati-hati kalau sampai berperilaku tidak wajar, jangan sampai kebablasan. Hati-hati pokoknya.”
“Makanya itu Vie, aku kadang pura-pura mau pergi makan, kalau ada mereka masuk ruanganku. Cantik sih cantik. Tapi sifatnya menakutkan. Eh siapa pangeranmu beberapa tahun yang lalu. Kenalkan dunk.”
“Hehe….gak usah. Aku sama dia filling an aja. Entah kenapa aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Dia punya wajah mirip mas pas kecil. Ingat gak, foto yang gak sengaja kebuka di komputermu. Trus ditertawain dan aku diinterogasi ayahmu. Ah, malu banget aku. Selama ini aku gak pernah cerita ma orang-orang rumah kecuali mas ma kamu. Hehe…”
“Oh..dia, ya, aku tahu. Ganteng ya. Ayo kejar dia Vie. Paling belum jauh, santai aja.”
“Ga berani mengejar mas. Biar waktu yang menjawab. Gak tahu kapan itu. Aku juga gak ngerti apakah harus ku perjuangan atau tidak. Dari awal aku bertemu dengannya, aku Cuma percaya pada satu hal, Allah yang mentakdirkan kita untuk bertemu, Allah juga yang memisahkan, dan jika Allah berkehendak Allah pasti mempertemukan kita kembali, kalau tidak ya, pasti akan ada orang yang tepat untuk menjadi pasangan kita masing-masing. Hanya itu yang masih ku pegang hingga saat ini. Ya, sudahlah, hehe….”
“Jawabanmu Vie. Bikin aku merinding. Tapi, segalanya harus diusahain. Jangan menunggu takdir dari Allah. Kita diwajibkan berusaha, kecuali kalau gagal berarrti memang takdir.”
“Gak tahu Ga, aku aja juga merinding kok. Ikhtiarku sekarang cuma bisa mencoba berteman dengan teman-temannya, sekalipun aku Cuma bisa mendengar kabarnya dari mereka aku sudah cukup bahagia. Ya, mungkin nanti kalau sudah waktunya, aku akan jujur. Nah, itu kapannya aku belum ngerti. Ya, disyukuri saja apa yang terjadi sekarang. Semuanya berproses.”
“Wuihh… adik perempuanku, hahaha… Ku do’akan Vie, biar dapat adik ganteng aku. Yang pasti harus ganteng hatinya juga ya. Jangan sampai kamu tertipu ya. Aku tidur dulu. Have a nice dream… ”
“Hahahaha… Ya. Amin Ya Robbal’alamin. Sama-sama Raden Mas Aga. Ya dah met tidur, makasih ya. Have nice dream and hope tomorrow will be a nice day for us. Zzztt…zztt….”


*******
Ku buka mataku, mencoba bangun dan menatap kenyataan ini. Kenyataan bahwa dia sudah pergi dariku. Tapi, entahlah ada apa denganku. Aku ingin sekali melepaskannya, membiarkannya pergi, membiarkannya berlalu dan aku ingin sekali menghapusnya dari lembaran hidupku. Tapi, ternyata aku belum bisa. Bohong, jika aku membencinya. Dusta, jika aku tidak mengharapkannya, dan bodoh jika aku harus melupakannya.
Ku buka kembali lembara cerita kasih yang kini menjadi kenangan indah untukku. Saat itu, saat aku mulai mengenalnya dalam hidupku.
Saat itu, malam datang menghampiriku. Saat aku mulai terpejam, dia datang menghampiriku dan menyapaku dengan senyumnya. Senyum yang mampu membuatku tersenyum meski aku tak mampu menatapnya. Saat itu aku benar-benar mengacuhkannya dan membiarkannya berlalu begitu saja. Entah kapan, dimana, dan bagaimana semua itu terjadi. Sia selalu mengisi hariku dengan berbagai hal yang membuatku tersenyum, membuatku tertawa saat aku merasa begitu sepi. Meski aku belum dapat menatapnya, meski aku tidak pernah ingin bertemu dengannya, aku sangat bahagia bisa bercanda dan bercerita dengannya. Hingga saat itu tiba….
Awal tahunku, adalah awal aku bertemu dengannya. Saat itu entah apa yang ada di benakku. Aku bingung, aku takut, dan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Hari itu dia benar-benar ada dihadapanku. Ku tatap dia berdiri di kegelapan malam, di dalam kesunyian malam, di persimpangan jalan antara mimpi dan kenyataan. Ini adalah yang pertama kali dalam hidupku. Apa yang aku bayangkan sebelumnya menghilang begitu saja, saat tangannya menjabat tanganku dan sebuah nama terdengar ditelingaku. Aku masih tak percaya, hal seperti ini terjadi dalam hidupku. Aku duduk dihadapannya, duduk diantara ketidakpercayaanku. Seketika, aku menjadi berubah. Aku hanya bisa terdiam, membisu. Aku hanya mampu menatap matanya dan senyumnya. Dan waktu pun berlalu, membawanya hilang dari hadapanku.
Sejak saat itu, aku mulai menerima kehadirannya dalam cerita kasihku. Cerita kasih yang sebenarnya waktu itu belum berani aku tuliskan. Dia mengisi kekosongan lubang kecil di hatiku selama ini.
Waktu terus berjalan mengiri langkahku. Aku bahagia, meski hanya dengan diriku sendiri. Aku bahagia, karena saat itu dia ada dan memberiku senyum kecil dan tawa kecil, sesuatu yang indah yang belum pernah aku temukan sebelumnya, meskipun dia tidak selalu tepat ada disampingku, meskipun senyumnya hanya bisa ku pandang dalam ingatanku, tapi kehadirannya dihatiku sudah membuatku cukup merasakan bahwa dia ada disampingku.
Aku pernah merasa ragu dengan setiap hal yang aku rasakan terhadapnya. Aku tidak mengerti apakah itu. Di setiap malamku, aku selalu bersujud dan bertanya padaNYA, berharap DIA akan memberiku jawaban atas pertanyaanku. Di dalam hatiku, aku rasakan sedikit ketakutan, takut semua ini hanyalah mimpi, atau dongeng tidur semata, dan aku tak pernah ingin terperosok dalam kisah yag tak tentu arah.
Aku sempat berhenti, merenungi semua ini, mencoba untuk tidak memperdulikannya, tidak memperdulikan perasaannya dan tidak juga memperdulikan perasaanku. Ku buang jauh-jauh rasa yang mungkin saat itu tidak pantas untukku. Tapi, ternyata aku salah, semakin aku tidak ingin mempedulikannya, semakin aku ingin menjangkaunya dan membawanya kembali padaku.
Untuk yang kedua kalinya, aku menemuinya, hanya untuk sebuah alasan yang tak jelas. Satu keberanian yang belum pernah aku lakukan satu kalipun. Satu alasanku adalah hanya ingin bisa memandang senyumnya sejenak saja dan berlalu.
Semakin hari semakin aku menyukainya. Perasaan apa ini. Dia bisa menjadi teman sekaligus sahabat yang baik untukku. Dia memberiku senyum dipagiku dan memberi warna lain di setiap hariku.
Ketiga kalinya dia menemuiku. Memberiku rangkaian lagu yang teramat indah. Sebuah nyanyian yang tak mampu ku dengar dan hanya mampu kurasakan mengalun indah dihatiku. Lagu tentang bintang yang tercipta untukku.
Keempat kalinya dia datang padaku. Tapi, saat itu ada yang berbeda dengannya. Dia tidak memandang ke arahku. Wajahnya tertunduk saat itu. Dia hanya diam dan berlalu begitu saja, meninggalkan satu pertanyaan yang tak pernah mampu kujawab. Satu pertanyaan yang selalu mengusik hatiku.
Dan datanglah ia malam itu. Satu malam yang membutku berani memintanya datang menemuiku. Membantuku berpijak di keramaian malam yang membuatku bingung. Dan aku tidak pernah menyangka, malam itu adalah saat yang dianggapnya sebagai saat terakhirnya untukku.
“Saat terakhirku untuk Vie, akhirnya berguna juga. I will missing u”
Aku tak mengerti apa arti perkataannya itu. Hanya satu kalimat itu yang ia katakan, selebihnya diam. Aku pun tidak berkata sepatah katapun. Aku biarkan dia membisu, sekalipun aku sangat ingin mendengarnya bicara. Sejenak, dia pun berlalu dari hadapanku. Ku coba bertahan dengan semua ini. Hingga aku pun berpikir jika memang saat terakhirnya untukku adalah malam itu, aku tidak apa-apa. Hanya saja untuk terakhir kalinya aku ingin memberinya satu kado terindah di hari bahagianya. Tapi, saying kado itu tak mampu kuberikan, karena dia tidak menginginkanku bicara padanya. Yang mampu kulakukan hanya berdo’a untuknya. Aku berharap do’aku bisa menjadi kado terindah untuknya. Dan malam pun berlalu bersama harapanku untuk kebahagiaannya.
Di tengah hijaunya alam, diantara indahnya alam ciptaan Allah, aku mersakan satu kedamaian. Aku sangat bersyukur Allah ijinkan aku berpijak di tengah keindahan yang di ciptakanNYA. Aku berjalan, berlari, tersenyum, dan tertwa menatap birunya langit, putihnya awan, sejuknya semilir angin yang begitu menenagkan. Satu kenyamananku setelah semuanya berakhir.
Dan……….
Dia pun datang kembali padaku, mengucapkan rasa terima kasih atas do’a yang kuberikan padanya. Dan dia pun memintaku menemuinya. Malam itu kami pun bertemu. Dia membawaku mengelilingi keindahan malam ciptaan Tuhan. Mungkin bagi semua orang itu adalah hal yang biasa, tapi tidak bagiku. Seribu kali pun dia memintaku berputar mengelilinginya aku akan lakukan. Saat aku pandang punggungnya yang berdiri dihadapanku, aku baru menyadari bahwa aku telah benar-benar menyukainya. Benar-benar yakin pada perasaanku.entahlah, apakah mungkin itu yang disebut dengan ‘jatuh cinta’. Namun, aku hanya diam membiarkan rasa itu ku miliki sendiri.
Dia membawaku pada suatu tempat yang belum pernah kudatangi. Khayalan masa kecilku kini seolah menjadi kenyataan. Mungkin, hal itu bagi semua orang adalah hal yang biasa, tapi bagiku, makan malam itu adalah makan malam terindah untukku. Meskipun ada sedikit kebodohan-kebodohan yang tak sengaja kulakukan hingga malam itu menjadi sedikit aneh untukku dan juga untuknya. Sebelum, malamku bersamanya berakhir, aku ingin sekali mengatakan satu hal padanya, namun aku tak mampu mengatakannya dan membiarkannya pergi begitu saja. Dan mungkin dia tidak pernah kembali padaku...
Setelah malam itu, dia benar-benar menghilang dan pergi. Membuatku patah, aku terluka, aku sakit, dan benar-benar menangis. Aku tidak menyesal olehnya, aku tidak marah padanya, tapi aku marah pada diriku sendiri, membiarkannya pergi dan tak kembali. Sesungguhnya aku ingin, tapi aku begitu lemah dan aku tak mampu mencegahnya untuk tidak pergi meninggalkanku terluka oleh luka yang kugores sendiri dihatiku.
Kini semuanya telah berakhir. Dia pun kini telah begitu jauh dariku. Menjadi asing kembali. Yang tersisa kini hanyalah satu kerinduanku. Kerinduanku akan kehadirannya kembali mengisi lubang hati kecilku ini. Entah sampai kapan rasa ini ada dihatiku. Entah siapa yang mampu menghapuskannya, karena ternyata aku belum mampu menghapuskannya sendiri.
Aku jadi teringat saat itu ada yang pernah berkata “The love is just for who believe in Love Creator. Rosullullah bersabda “ Allah berfirman : ‘cintaKU harus kuberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karenaKU. CintaKU harus kuberikan kepada orang-orang yang saling berkorban karenaKU, dan cintaKU harus KU berikan kepada orang-orang yang menyambung hubungan karenaKU’, maka hiduplah di bawah naungan cinta dan saling mencintailah karena keagunganNYA, niscaya akan mendapatkan naungan Allah yang pada hari itu tidak ada naungan selain naunganNYA. Jika aku bisa aku ingin seperti itu, aku ingin mendapatkan cinta yang seperti itu, cinta yang menerimaku, membuatku tersenyum dan menemaniku hingga lelah kaki ini melangkah. Dan cinta itu adalah cinta yang dapat membawaku pada kecintaanNYA. Lalu, aku pun mengikuti do’a yang Rosulullah ajarkan.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami cinta kepada mereka yang mencintaiMU, dan apa saja yang mendekatkan kami kepada cintaMU, dan jadikanlah cintaMU itu lebih berharga bagi kami daripada air yang sejuk bagi orang yang dahaga”
Sepotong do’a itu pernah kupanjatkan sebelum Allah menghadirkannya dalam hidupku. Yah, aku memang tidak akan pernah tahu apa yang Allah rencanakan pada kisah kasihku. Hingga saat ini Allah masih merahasiakan kasih yang diciptakanNYA untukku mengakhiri kisahku. Siapa dia? Dimana dia? Kapan? Dan bagaimana? Allah Maha Tahu. Yang aku lakukan hanyalah tetap menjaga hatiku dan selalu belajar untuk menyukai siapapun dengan sewajarnya saja karena Allah pun menegur hambaNYA “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS.Al. Baqarah 216).
Saat aku menuliskan kisah kasih ini, aku hanya berpikir bahwa semua itu adalah awal aku memulai kisah kasih yang nantinya akan terjadi dalam hidupku, akan ada episode berikutnya yang aku belum tahu, namun aku selalu percaya akan ada akhir dari kisah kasihku itu. Dan, semua itu sudah dituliskanNYA untukku.
Sedikit saja ingin kuselipkan untaian rasa yang ingin kusampaikan pada dia, yang belum sempat aku katakan malam itu. “Terima kasih untuk rasa yang kau berikan dan sesungguhnya aku juga merasakan rasa itu hingga saat ini, hingga kau tak lagi ada disampingku. Maafkan aku, yang tidak pernah bisa mengatakan hal ini langsung padamu. Semoga kau membacanya, sekalipun semua ini mungkin sudah terlambat dan segalanya telah berubah. Aku tidak berharap hal lain, selain kau masih mau selalu tersenyum untukku.”
Pie_at 10.10. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: